Rabu, 25 April 2012

DIMANAKAH ALLAH MELETAKKAN SANGKAKALA MALAIKAT IZROFIL?



BERITA LAMA - Sekitar 5 tahun lalu, sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Prof. Frank Steiner dari Universitas Ulm, Jerman, melakukan observasi dan penelitian terhadap alam semesta untuk memastikan bentuk sebenarnya dari alam semesta raya ini. Kita tahu bahwa yang umumnya diperkirakan orang selama ini adalah bahwa alam semesta ini berbentuk bulat, bundar, atau bahkan ada pula yang menyebut bentuknya datar saja.

Menggunakan peralatan milik NASA yang diberi nama WMAP (Wilkinson Microwave Anisotropy Prob), pada akhir penelitiannya mereka membuat sebuah kesimpulan yang sangat mencengangkan. Menurut hasil penelitian tersebut, alam semesta ini ternyata bentuknya menyerupai terompet!

Adapun ringkasan ilustrasi yang mereka gambarkan adalah bahwa pada bagian ujung belakang terompet (baca: alam semesta) merupakan alam semesta yang tidak dapat diamati (unobservable), sedang bagian depan, di mana bumi dan seluruh sistem tata surya berada, merupakan alam semesta yang masih mungkin untuk diamati (observable).

Bentuk Alam Semesta
Di dalam kitab Tanbihul Ghofilin Jilid-1 halaman 60 ada sebuah hadits panjang yang menceritakan tentang kejadian kiamat yang pada bagian awalnya sangat menarik untuk dicermati.

Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah menjadikan sangkakala (terompet) dan diserahkan kepada malaikat Izrofil, kemudian ia letakkan dimulutnya sambil melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintah". Saya bertanya: “Ya Rasulullah apakah sangkakala itu?” Jawab Rasulullah: “Bagaikan tanduk dari cahaya.” Saya tanya: “Bagaimana besarnya?” Jawab Rasulullah: “Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutusku sebagai Nabi, besar bulatannya itu seluas langit dan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali. Pertama: Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan). Kedua: Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan). Ketiga: Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa sangkakala atau terompet malaikat Izrofil itu bentuknya seperti tanduk dan terbuat dari cahaya. Ukuran bulatannya seluas langit dan bumi. bukankah bentuk 'laksana tanduk' mengingatkan kita pada terompet orang-orang jaman dahulu yang pada umumnya terbuat dari tanduk?

Kalimat seluas langit dan bumi dapat dipahami sebagai ukuran yang meliputi seluruh wilayah langit (sebagai lambang alam tak nyata/ghaib) dan bumi (sebagai lambang alam nyata/syahadah). Atau dengan kata lain, bulatan terompet malaikat Isrofil itu melingkar membentang dari alam nyata hingga alam ghaib.

Jika kesahihan hadits di atas dapat dibuktikan dan data yang diperoleh lewat WMAP memang akurat serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka dapat dipastikan bahwa kita ini sesungguhnya bagaikan kupu-kupu yang hidup di tengah-tengah kaldera sebuah gunung berapi paling aktif yang siap meletus kapan saja.

Allah sendiri telah mengabarkan kedahsyatan terompet malaikat Izrofil itu kepada manusia melalui Firman-Nya:

“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An-Naml[27]:87)

Makhluk langit saja terkejut, apalagi makhluk bumi yang notabene jauh lebih lemah dan lebih kecil. Sedangkan pada sambungan hadits di atas masih ada sedikit tambahan tentang seperti apa keterkejutan dan ketakutan makhluk bumi kelak.

“Pada saat tergoncangnya bumi, manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya, yang menyusui lupa pada bayinya, anak-anak jadi beruban dan setan-setan berlarian.”

Ada sebuah pertanyaan yang patut untuk direnungi dalam-dalam di sini:
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jika sangkakalanya saja sebesar itu, maka sebesar apakah peniupnya? Terlebih lagi, sebesar apa pulaYang Menciptakan keduanya?
Subhanallah!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui."  (QS. Al-An'Aam[6]:73)

Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.

PENGERTIAN TUHAN MENURUT ALKITAB DAN AL-QUR'AN



Penggunaan logika yang benar dapat mengantar manusia mengenal penciptanya, yaitu dengan merenungi ciptaan-Nya serta tanda-tanda kekuasaannya. Hal ini akan lebih lengkap jika dibarengi dengan qalbu yang tidak pernah membohongi pemiliknya. Kedua anugrah sangat berharga dari Sang Pencipta tersebut dilengkapi dengan panduan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan dan kemampuan berfikir (logika) umat manusia. Itulah makanya penjelasan dalam kitab suci samawi selalu bertambah, dari yang paling awal hingga yang paling terakhir.  

Ibarat sebuah software, maka setiap edisi akan lebih baik dari edisi sebelumnya hingga sampai pada edisi yang sempurna. Namun demikian, pesan utamanya selalu sama walau umat yang menerima petunjuk tersebut tidak mau atau memang tidak memahami pesan dari kitab suci tersebut. Pesan tauhid selalu diletakkan dalam urutan nomor satu di dalam semua kitab samawi, mulai dari Shuhuf Ibrahim, Taurat, Zabur (Mazmur), Injil hingga Al-Qur'an. Sekuat apapun manusia coba menutupi kebenaran dan membelokkan ajaran tersebut, sunnatullah akan berkata lain. Kebenaran itu akan terkuak sekalipun masih ada saja manusia yang tetap tidak mau menerimanya.   

Ajaran Ibrahim Alaihi Sallam (2000-1900 SM) hingga Musa Alaihi Sallam (1400 SM) yang sempat punah, ditulis kembali Oleh Ezra atau Uzair pada 536-456 SM yang masuk ke dalam Perjanjian Lama sebagai "The book of Ezra." Ajaran Ezra yang dibelokkan oleh bani Israel, diperbarui dan digenapi oleh Injil yang diturunkan kepada Isa Alaihi Sallam (abad pertama Masehi).

Saat ajaran Injil dibelokkan lagi, Al-Qur'an diturunkan kepada Muhammad Salallahu'alaihi Wasallam dan tidak pernah berubah hingga akhir zaman. Namun ketika pelurusan al-Qur'an tidak diterima oleh para ahli kitab (mereka yang mengimani kitab-kitab Taurat, Zabur, dan Injil), Allah memperingatkan ahli kitab dengan dua peristiwa besar, yaitu penemuan Naskah Laut Mati yang lebih banyak menyinggung kitab Perjanjian lama (Taurat) serta kajian sarjana Bible yang objektif dalam meluruskan ajaran Injil (Gospel, Perjanjian Baru).

Umat Yahudi yang suka sekali bermain-main dengan sejarah untuk kepentingan semangat nasionalisme mereka diberi peringatan dengan penemuan Naskah Qumran, dan umat Kristen yang suka melawan rasionalisme diberi peringatan dengan berbagai kajian objektif dan rasional tentang keyakinan mereka dengan pertanyaan, masihkan mereka belum percaya juga? Jika umat muslim pun ikut-ikutan meninggalkan Al-Qur'an, maka entah peringatan apa yang akan mereka terima dari Allah!  

Upaya membelokkan peng-ESA-an Allah menjadi paham Trinitas dalam tradisi Gereja, sebenarnya sangat bertentangan dengan kitab suci yang menjadi panduan gereja itu sendiri. Namun keyakinan semu yang sudah mengendap lebih dari ± 20 abad lamanya ini agaknya menjadi penghalang paling besar bagi mereka untuk menghargai nalar dan akal di samping dogma, yang seharusnya sangat dapat diunggulkan. Aneh memang.

Bibel memuat penyataan tegas dari Tuhan seperti:
"Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus." (Yesaya 40: 25).

Sama tegasnya dengan pernyataan Al-Qur'an:
"Tidak ada satupun yang menyerupai-Nya."  (QS. As-Syura [42]:11)   

Menunjuk pernyataan tegas dalam Bible di atas, maka sebenarnya ajaran tentang pribadi dan roh, hanyalah bualan semata. Tapi karena kepercayaan berkata lain, sebagian kelompok Kristen tidak menerima ayat ini, karena ayat ini terdapat di dalam kitab perjanjian lama yang mereka tolak, walaupun pada sisi lain para penolak perjanjian lama menggunakan beberapa ayatnya untuk melegalisir beberapa kepercayaannya berdasarkan Perjanjian baru. Standar ganda yang sangat menjemukan!     

Dengan tidak mengakui Perjanjian Lama, maka upaya legalisasi dicarikan dari Perjanjian Baru walaupun dengan menafsirkan sesuka hati, atau kalau perlu menambah dan mengurangi ayat, agar sesuai dengan paham trinitas. Salah satu ayat yang dijadikan alasan untuk doktrin ketuhanan Yesus yang pada gilirannya akan dapat memperkuat paham trinitas, yaitu Yohanes 1:1, yang berbunyi: 

"Pada mulanya adalah firman; firman itu bersama-sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah."   

Keberadaan ayat ini memang sangat janggal, karena banyak ayat Bible yang menyebutkan bahwa tuhan itu Esa atau Satu, sementara ayat di atas menunjuk adanya `dua' yang diasosiasikan melalui kalimat;  "firman itu bersama-sama dengan Allah." Kejanggalan bukan pada kalimat ini, tapi pada kalimat lanjutannya yang berbunyi: ".. dan firman itu adalah Allah."

Artinya, setelah menyatakan bahwa terdapat `Dua' yang bersama-sama, kemudian dikatakan keduanya adalah satu, dengan kekuasaan yang sama, yang karenanya maka pantas disebut sebagai Tuhan.

Abu Mahmoud Muhajir dalam bukunya "All Church's Doctrines Contradicts The Bible?', mencoba mencermati ayat ini. Bahwa jika diperhatikan ayat-ayat lain yang menggunakan gaya bahasa yang sama dengan ayat ini, maka akan didapatkan satu ayat yang mirip yaitu pada I Korintus 3:23yang berbunyi:  "Tetapi kamu adalah milik kristus dan kristus adalah milik Allah."  Jika mengacu pada gaya bahasa ini, maka penulisan Yohanes 1:1 mestinya berbunyi: "...dan Firman adalah milik Allah."

Dalam bahasa Indonesia mungkin hal ini terlihat agak berlebihan sebab harus menambah satu kata, namun dalam bahasa Inggris dan Latin perbedaannya sangat tipis yaitu hanya satu huruf, yang menandakan kepemilikan.

Dalam edisi bahasa Inggris, Yohanes 1:1 ditulis, "...and the words was God,"   yang semestinya ditulis," ... was God's  (milik Tuhan). Ada huruf "s" setelah kata God. Penulisan seperti ini akan lebih jelas dalam bahasa Yunani yang merupakan bahasa kedua setelah bahasa aslinya yaitu Aramaik. Dalam bahasa Yunani kata Theos artinya Tuhan, tetapi Theou artinya milik Tuhan. Perbedaannya sangat kecil, satu huruf, tapi resiko perubahan maknanya sangat besar! 

Al-Qur'an juga menyinggung soal firman (kalam), namun dalam pengertian yang sangat berbeda dibandingkan dengan pemahaman gereja yang acapkali menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an untuk mendukung pemahaman ketuhanan Yesus. Padahal ayat ini justru meluruskan pemahaman tentang firman.  

"(Ingatlah) ketika malaikat berkata: Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberi kabargembira kepada engkau dengan kalimat dari pada-Nya, namanya Almasih "Isa anak Maryam, yang mempunyai kebesaran di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah."   (QS. Ali Imran[3]: 45)

Kalimat yang dimaksud adalah seperti yang dijelaskan oleh Allah dalam surat yang sama pada ayat berikutnya yaitu:

"Maryam berkata: Wahai Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belurn pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun. Allah berfirman: "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah."  (QS. Ali Imran[3]: 47).

Dengan pengertian bahwa firman adalah perkataan Allah untuk mewujudkan kehendak-Nya, maka kata "milik" atau "dari"  tidak boleh dihilangkan. Sebab ini sekaligus merupakan jawaban atas ketidakmampuan manusia untuk menalar adanya seorang manusia yang lahir tanpa pertemuan antara ovum dan sperma. Bahwa jika Allah berkehendak maka cukup berfirman "Kun" maka "jadilah"  apa pun yang dikehendaki-Nya, termasuk penciptaan Adam atau Yesus!

Hal ini tidak dapat dipungkiri baik oleh umat Kristen atau Muslim sebab baik menurut Alkitab maupun Al-Qur'an memang keduanya dijelaskan menjadi wujud melalui proses yang berbeda dari manusia pada umumnya.

Kendati demikian, jika “ciptaan" itu kemudian dianggap sekaligus sebagai "tindakan" (dari Allah berupa firman: "Kun"), apalagi bila kemudian "tindakan" tersebut dianggap pula sebagai Pelaku mekanisme penciptaan itu sendiri, maka bayangkanlah! Berapa banyak yang akan dipertuhankan oleh manusia sebab alam semesta berikut seluruh isinya ini pun terjadi atas kehendak Allah melalui proses "KUN" atau "JADILAH!"

Wallahualambissawab

AL-QUR'AN MENOLAK TEGAS TUHAN-TUHAN SELAIN ALLAH (MUSYRIK)



Ayat-ayat Al-Qur'an berikut ini adalah ayat-ayat yang menunjukkan penolakan aqidah Islam terhadap segala bentuk pengakuan, atau pemaksaan pengakuan, bahwa ada Tuhan selain Allah, termasuk di dalamnya ajaran yang mempertuhankan Yesus.

[QS. Al-An’aam(6):19] Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai Alquran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui." Katakanlah: "Sesungguhnya Dia Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)".

[QS. At-Taubah(9):31] Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Almasih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

[QS. Al-Israa(17):42-43] Katakanlah: "Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arsy". Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.

[QS. Al-Anbiyaa(21):17-18] Sekiranya Kami hendak membuat suatu permainan (isteri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan apa yang kamu sifatkan (kepada Allah dengan sifat yang tidak layak bagi-Nya).

[QS. Al-Anbiyaa(21):21-24] Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy dari apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanya. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: "Unjukkanlah hujjahmu!. (Alquran) ini adalah peringatan bagi orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang yang sebelumku". Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.

[QS. Al-Mu'minuun(23):91] Tidaklah sekali-kali Allah mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, tentu masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang dia ciptakan, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan,

[QS. Az-Zukhruf(43):81-85] Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka aku (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan-(nya). Maha Suci Tuhan yang memiliki langit dan bumi, Tuhan yang memiliki 'Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu. Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka. Dan Dia Tuhan (yang diibadahi) di langit dan Tuhan (yang diibadahi) di bumi dan Dia Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Maha Suci Tuhan yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

[QS. Al-Baqarah(2):116] Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.

[QS. An-Nisaa(4):171] Hai Ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih; Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan pada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Hal itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

[QS. Al-A’raaf (7):33] Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."

[QS. Yunus(10):105-106] Dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (demikian), maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim".

[QS. Al-Israa(17):22] Janganlah kamu adakan Tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).

[QS. Asy-Syu'araa(26):213] Maka janganlah kamu menyeru Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab.

[QS. Al Qashash(28):88] Dan janganlah kamu menyeru Tuhan yang lain di samping Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) kecuali Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

[QS. Adz-Dzaariyaat(51):51] Dan janganlah kamu mengadakan Tuhan yang lain di samping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.

[QS. Al-Israa(17):39-40] Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).{39}

Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat?. Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).

[QS. Al-Kahf(18):110] Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhanmu ialah Tuhan yang Esa". Siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

[QS. Al-Anbiyaa(21):29] Dan siapa di antara mereka, mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain Allah", maka ia Kami balas dengan Jahanam, demikianlah Kami membalas orang-orang zalim.

[QS. Al-Mu'minuun(23):117] Dan siapa yang menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.

[QS. Yunus(10):35] Katakan: "Adakah di antara sekutu-sekutumu yang menunjukkan kebenaran?" Katakanlah "Allah-lah yang menunjukkan kebenaran". Maka apakah yang menunjukkan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk?. Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?

[QS. Ar-Ra'd(13):33-34] Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri atas apa yang ia perbuat (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?. Mereka menjadikan sekutu bagi Allah. Katakanlah: "Sebutkanlah sifat-sifat mereka ". Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk. Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah.

[QS. An-Nahl(16):73-76] Dan mereka menngabdi kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit pun). Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu ia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama?. Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui. Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan ia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja ia disuruh oleh penanggungnya itu, ia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan ia berada pula di atas jalan yang lurus?

[QS. An-Nahl(16):51] Dan Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua Tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut".

LIHAT JUGA: At Taubah [9]: 31, Al Anbiyaa' [21]: 43, Al Furqaan [25]: 42 – 43, 68, Ash Shaaffaat [37]: 86, Shaad [38]: 5, Az Zukhruf [43]: 45, Al Jaatsiyah [45]: 23, Qaaf [50]: 26.

SYIRIK ADALAH KEPERCAYAAN YAHUDI DAN KRISTEN
[QS. Al-Maaidah(5):17-18] Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Almasih putera Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Almasih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?". Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksamu karena dosa-dosamu?." (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya, Dia mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada Allah kembali (segala sesuatu).

[QS. At-Taubah(9):30-35] Orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah," dan orang Nasrani berkata: "Almasih itu putera Allah". Demikianlah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Mereka dibinasakan (dilaknat) Allah, bagaimana mereka sampai berpaling?Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Almasih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Alquran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani sungguh memakan harta orang dengan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka gembirakanlah mereka dengan siksa yang pedih, Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."

[QS. Yunus(10):68-70] Mereka (orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung". (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat disebabkan kekafiran mereka.

[QS. Al-Israa(17):56-57] Katakanlah: "Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya." Mereka yang kamu seru itu sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.

**

[Sumber: Dari Eliza Ernawati]

PERBEDAAN ANTARA JIN, SETAN DAN IBLIS



Cerita Tentang JinSetan, dan Iblis masih menyisakan kontroversi hingga kini. Namun yang jelas, dalam syariat Islam eksistensi mereka diakui. Sehingga jika masih ada dari kalangan muslim yang meragukan keberadaan mereka, maka amat pantaslah jika kita pun meragukan keimanannya.

Sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan risalah yang umum dan menyeluruh. Tidak hanya untuk kalangan Arab saja namun juga untuk seluruh umat manusia. Tidak khusus bagi satu kaum saja namun bagi seluruhnya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus kepada segenap Ats-Tsaqalain: Jin dan Manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا
“Katakanlah: Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً 
Adalah para nabi itu diutus kepada kaum, sedang aku diutus kepada seluruh manusia.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِيْنَ. قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوْسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيْقٍ مُسْتَقِيْمٍ. يَا قَوْمَنَا أَجِيْبُوا دَاعِيَ اللهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ. وَمَنْ لاَ يُجِبْ دَاعِيَ اللهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي اْلأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ

Dan ingatlah ketika Kami hadapkan sekumpulan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur`an. maka ketika mereka menghadiri pembacaan lalu mereka berkata: `Diamlah kamu’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaum memberi peringatan. Mereka berkata: `Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab yang telah diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelum lagi memimpin kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Wahai kaum kami, terimalah orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tdk menerima orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan lepas dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada bagi pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.”

Jin Diciptakan Sebelum Manusia
Tak ada satupun dari golongan kaum muslimin yang mengingkari keberadaan jin. Demikian pula mayoritas kaum kuffar meyakini keberadaannya. Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani pun mengakui eksistensinya sebagaimana pengakuan kaum muslimin, meski ada sebagian kecil dari mereka yang mengingkarinya. Sama halnya dengan sebagian di antara kaum muslimin yang mengingkari, yakni dari kalangan orang bodoh dan sebagian Mu’tazilah. Jelas keberadaan jin merupakan hal yang tidak dapat disangkal lagi mengingat pemberitaan dari para nabi sudah sangat mutawatir dan diketahui orang banyak.

Secara pasti kaum jin adalah makhluk hidup berakal dan mereka melakukan segala sesuatu dengan kehendak. Bahkan mereka juga terikat pada perintah dan larangan Allah. Hanya saja mereka tidak memiliki sifat dan tabiat seperti yang ada pada manusia atau makhluk lainnya. Aneh, bahwa orang-orang filsafat masih mengingkari keberadaan jin. Dan dalam hal inipun Muhammad Rasyid Ridha telah keliru. Dia mengatakan: “Sesungguh jin itu hanyalah ungkapan (gambaran) tentang bakteri-bakteri. Karena ia tdk dapat dilihat kecuali dengan perantara mikroskop."

Jin lebih dahulu diciptakan daripada manusia sebagaimana dikabarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm firman-Nya:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُوْنٍ. وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُمِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُوْمِ

“Dan sesungguh Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering dan lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas.”

Karena jin lebih dulu ada maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan penyebutan jin daripada manusia ketika menjelaskan bahwa mereka diperintah untuk beribadah seperti hal manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

"Dan Aku tdk menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Jin, Setan, dan Iblis
Kalimat jin, setan, ataupun juga Iblis seringkali disebutkan dalam Al-Qur`an bahkan mayoritas kita pun sudah tidak asing lagi mendengarnya. Sehingga eksistensinya sebagai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lagi diragukan berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ijma’ ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tinggal persoalannya, apakah jin, setan, dan Iblis itu tiga makhluk yang berbeda dengan penciptaan yang berbeda ataukah mereka itu bermula dari satu asal atau termasuk golongan para malaikat? Yang pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerangkan asal-muasal penciptaan jin dengan firman-Nya:

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُوْمِ

"Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas.”

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَتِ الْجَانُّ مِنْ مَّارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Para malaikat diciptakan dari cahaya jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian.”

Adapun tentang Iblis maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

:وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ

Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin…”

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Iblis mengkhianati asal penciptaan karena dia diciptakan dari nyala api, sedangkan asal penciptaan malaikat adalah dari cahaya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan di sini bahwa Iblis berasal dari kalangan jin dalam arti dia diciptakan dari api. Al-Hasan Al-Bashri berkata:

‘Iblis tidak termasuk malaikat sedikitpun. Iblis merupakan asal mula jin sebagaimana Adam sebagai asal mula manusia’.”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu mengatakan: “Iblis adalah abul jin .”

Sedangkan setan mereka adalah kalangan jin yang durhaka. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu pernah ditanya tentang perbedaan jin dan setan. Beliau menjawab: “Jin itu meliputi setan namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan manusia dan menyesatkannya. Adapun yang shalih mereka berpegang teguh dengan agama memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja mayoritas mereka itu bodoh.”

Siapakah Iblis?
Terjadi perbedaan pendapat dalam hal asal-usul iblis, apakah berasal dari malaikat atau dari jin. Pendapat pertama menyatakan bahwa iblis berasal dari jenis jin. Ini adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu. Beliau menyatakan: "Iblis tdk pernah menjadi golongan malaikat sekejap matapun sama sekali. Dan dia benar-benar asal-usul jin sebagaimana Adam adalah asal-usul manusia.”Pendapat ini pula yang tampak dikuatkan oleh Ibnu Katsir Al-Jashshash dalam kitab Ahkamul Qur‘an dan Asy-Syinqith,i dalam kitab Adhwa`ul Bayan. Penjelasan tentang dalil pendapat ini beliau sebuntukan dalam kitab tersebut. Secara ringkas dapat disebtkan sebagai berikut:

1. Kema’shuman malaikat dari perbuatan kufur yang dilakukan iblis sebagaimana firman Allah:

لاَ يَعْصُوْنَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

…yang tdk mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

لاَ يَسْبِقُوْنَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُوْنَ

“Mereka itu tdk mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.”

2. Dzahir surat Al-Kahfi ayat 50

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

“Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’ mk sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin lalu ia mendurhakai perintah Rabbnya.”

Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa iblis dari jin dan jin bukanlah malaikat. Ulama yang memegang pendapat ini menyatakan: “Ini adalah nash Al-Qur`an yang tegas dalam masalah yang diperselisihkan ini.” Beliau juga menyatakan: “Dan hujjah yang paling kuat dalam masalah ini adalah hujjah mereka yang berpendapat bahwa iblis bukan dari malaikat.”

Adapun pendapat kedua yang menyatakan bahwa iblis dari malaikat menurut Al-Qurthubi adalah pendapat jumhur ulama termasuk Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. Alasan adalah firman Allah:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ

"Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang2 yang kafir.”

Juga ada alasan-alasan lain berupa beberapa riwayat Israiliyat. Pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama Insya Allah karena kuat dalil mereka dari ayat-ayat yang jelas. Adapun alasan pendapat kedua, sebenarnya ayat tersebut tidak menunjukkan bahwa iblis dari malaikat. Karena susunan kalimat tersebut adalah susunan istitsna` munqathi’. Adapun cerita-cerita asal-usul iblis itu adalah cerita Israiliyat. Ibnu Katsir menyatakan: “Dan dalam masalah ini banyak yang diriwayatkan dari ulama salaf. Namun mayoritas adalah Israiliyat yang dinukilkan untuk dikaji, wallahu a’lam.
Allah lebih tahu tentang keadaan mayoritas cerita itu. Dan di antaranya ada yang dipastikan dusta karena menyelisihi kebenaran yang ada di tangan kita. Dan apa yang ada di dalam Al-Qur`an sudah memadai dari yang selain dari berita-berita itu.”

Asy-Syinqithi menyatakan: “Apa yang disebutkan oleh para ahli tafsir dari sekelompok ulama salaf seperti Ibnu ‘Abbas dan selain bahwa dahulu iblis termasuk pembesar malaikat penjaga surga mengurusi urusan dunia dan namanya adalah ‘Azazil ini semua adalah cerita Israiliyat yang tidak bisa dijadikan landasan.”

Siapakah Setan?
Setan atau Syaithan dalam bahasa Arab diambil dari kata yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa itu dari kata yang berarti terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir sehingga kata Syaithan arti yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibnu Jarir menyatakan syaithan dlm bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin manusia atau hewan atau dari segala sesuatu. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu setan-setan manusia dan jin sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu .”

Allah menjadikan setan dari jenis manusia seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah tiap yang durhaka disebut setan karena akhlak dan perbuatan menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenis dan karena jauh dari kebaikan.Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan. Lihat juga Al-Qamus Al-Muhith. Yang mendukung pendapat ini adalah surat Al-An’am ayat 112:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu setan-setan manusia dan jin sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu .”

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu ia berkata: Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat lalu aku duduk. Beliau berkata: “Wahai Abu Dzar berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah apakah di kalangan manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya!” Ibnu Katsir menyatakan setelah menyebutkan beberapa sanad hadits ini: “Inilah jalan-jalan hadits ini. Dan semua jalan-jalan hadits tersebut menunjukkan kuat hadits itu dan keshahihannya.” Yang mendukung pendapat ini juga hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Muslim:

الْكَلْبُ اْلأَسْوَدُ شَيْطَانٌ

Anjing hitam adalah setan.”Ibnu Katsir menyatakan: “Makna –wallahu a’lam– yaitu setan dari jenis anjing.”

Ini adalah pendapat Qatadah Mujahid dan yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ibnu Katsir Asy-Syaukani dan Asy-Syinqithi. Dalam masalah ini ada tafsir lain terhadap ayat itu tapi itu adalah pendapat yang lemah .Ketika membicarakan tentang setan dan tekad dalam menyesatkan manusia Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ. قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ. قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِيْنَ

Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan’ Allah berfirman ‘Sesungguh kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’ Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukumiku tersesat aku benar-benar akan mengajak mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur .”

Setan adalah turunan Iblis sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَفَتَتَّخِذُوْنَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُوْنِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِيْنَ بَدَلاً
"Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunan sebagai pemimpin selain-Ku sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang dzalim.”

Turunan-turunan Iblis yang dimaksud dlm ayat ini adalah setan-setan. Penggambaran Tentang Jin Al-jinnu berasal dari kata janna syai`un yajunnuhu yang bermakna satarahu. Maka segala sesuatu yang tertutup berarti tersembunyi. Jadi jin itu disebut dengan jin karena keadaan yang tersembunyi. Jin memiliki roh dan jasad. Dalam hal ini Syaikhuna Muqbil bin Hadi rahimahullahu mengatakan: “Jin memiliki roh dan jasad. Hanya saja mereka dapat berubah-ubah bentuk dan menyerupai sosok tertentu serta mereka bisa masuk dari tempat manapun."

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar menutup pintu-pintu sembari beliau mengatakan: ‘Sesungguh setan tidak dapat membuka yang tertutup’.

Beliau memerintahkan agar kita menutup bejana-bejana dan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya. Demikian pula bila seseorang masuk ke rumah kemudian membaca bismillah, maka setan mengatakan: ‘Tidak ada kesempatan menginap’. Jika seseorang makan dan mengucapkan bismillah maka setan berkata: ‘Tidak ada kesempatan menginap dan bersantap malam’.”

Jin bisa berwujud seperti manusia dan binatang. Dapat berupa ular dan kalajengking juga dalam wujud unta, sapi, kambing, kuda, bighal, keledai, dan juga burung. Serta bisa berwujud Bani Adam seperti waktu setan mendatangi kaum musyrikin dalam bentuk Suraqah bin Malik kala mereka hendak pergi menuju Badr.

Mereka dapat berubah-ubah dalam bentuk yang banyak seperti anjing hitam atau juga kucing hitam. Karena warna hitam itu lebih signifikan bagi kekuatan setan dan mempunyai kekuatan panas. Kaum jin memiliki tempat tinggal yang berbeda-beda. Jin yang shalih bertempat tinggal di masjid dan tempat-tempat yang baik. Sedangkan jin yang jahat dan merusak mereka tinggal di kamar mandi dan tempat-tempat yang kotor.Tulang dan kotoran hewan adalah makanan jin. Di dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

ابْغِنِي أَحْجَارًا أَسْتَنْفِضْ بِهَا وَلاَ تَأْتِنِي بِعَظْمٍ وَلاَ بِرَوْثَةٍ. فَأَتَيْتُهُ بِأَحْجَارٍ أَحْمَلُهَا فِي طَرَفِ ثَوْبِي حَتَّى وَضَعْتُهَا إِلَى جَنْبِهِ ثُمَّ انْصَرَفْتُ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مَشَيْتُ فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْعَظْمِ وَالرَّوْثَةِ؟ قَالَ: هُمَا مِنْ طَعَامِ الْجِنِّ وَإِنَّهُ أَتَانِي وَفْدُ جِنِّ نَصِيْبِيْنَ وَنِعْمَ الْجِنُّ فَسَأَلُوْنِي الزَّادَ فَدَعَوْتُ اللهَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَمُرُّوا بِعَظْمٍ وَلاَ بِرَوْثَةٍ إِلاَّ وَجَدُوا عَلَيْهَا طَعَامًا

"Carikan beberapa buah batu untuk kugunakan bersuci dan janganlah engkau carikan tulang dan kotoran hewan.” Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku pun membawakan untuk beberapa buah batu dan kusimpan di sampingnya. Lalu aku menjauh hingga beliau menyelesaikan hajatnya.”Aku bertanya: “Ada apa dengan tulang dan kotoran hewan?”Beliau menjawab: “Keduanya termasuk makanan jin. Aku pernah didatangi rombongan utusan jin dari Nashibin dan mereka adalah sebaik-baik jin. Mereka meminta bekal kepadaku. maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar tidaklah mereka melewati tulang dan kotoran melainkan mereka mendapatkan makanan.”

Gambaran Tentang Jin, Setan, dan Iblis adalah wazan dari fi’il diambil dari asal kata al-iblaas yang bermakna at-tai`as dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka adalah musuh nomer wahid bagi manusia. Musuh bagi Adam dan keturunannya. Dengan kesombongan dan analogi yang rusak serta kedustaan mereka berani menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala saat mereka enggan untuk sujud kepada Adam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ

“Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’ mk sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Malah dengan analogi yang menyesatkan Iblis menjawab:

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ

Aku lebih baik darinya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Analogi atau qiyas Iblis ini adalah qiyas yang paling rusak. Qiyas ini adalah qiyas batil karena bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyuruh untuk sujud. Sedangkan qiyas jika berlawanan dengan nash maka ia menjadi batil karena maksud dari qiyas itu adalah menetapkan hukum yang tdk ada pada nash mendekatkan sejumlah perkara kepada yang ada nash sehingga keberadaan menjadi pengikut bagi nash.Bila qiyas itu berlawanan dengan nash dan tetap digunakan (diakui) maka konsekuensinya akan menggugurkan nash. Dan inilah qiyas yang paling buruk!

Sumpah mereka untuk menggoda Bani Adam terus berlangsung sampai hari kiamat setelah mereka berhasil menggoda Abul Basyar Adam dan vonis sesat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dengan firman-Nya:

يَابَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِيْنَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ

"Hai anak Adam janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian kedua untuk memperlihatkan kepada kedua auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikut melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”

Karena setan sebagai musuh kita maka kita diperintahkan untuk menjadi musuh setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ

"Sesungguh setan itu adalah musuh bagimu maka anggaplah ia musuhmu karena sesungguh setan-setan itu hanya mengajak golonganmu supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

أَفَتَتَّخِذُوْنَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُوْنِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِيْنَ بَدَلاً

“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunan sebagai pemimpin selain AKu sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang dzalim.”

Semoga kita semua terlindung dari godaan-godaannya. Wal ’ilmu ’indallah.

(Dikutip Dari Penjelasan Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)


TENTANG ALLAH,MANUSIA DAN IBLIS


Bagi manusia, sesungguhnya isyarat kasih sayang Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim sudah terbentang luas sebagaimana tercermin dalam dialog antara Nabi Adam (as), Iblis, dan Allah Subhanahu Wata'ala yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali (penterjemah Sahli, M), Di balik Ketajaman Hati, Amani, Jakarta, 1997, hal 83-84

Sesungguhnya iblis berkata, “Ya Tuhanku, Engkau usir aku dari surga karena Adam. Dan aku tidak dapat menguasainya kecuali dengan penguasaan-Mu.”
Allah berfirman, “Tidak akan dilahirkan seorang anak baginya kecuali tentu dilahirkan untukmu dua anak baginya.”
Dia berkata lagi, “Tambahkanlah untukku.”
Allah berfirman, “Dada-dada mereka adalah rumah-rumahmu, engkau berjalan sejalan dengan peredaran darah.”
Berkata iblis, “Tambahkanlah untukku.”
Allah berfirman, “Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkudamu dan pasukanmu yang berjalan kaki.”

Lalu Adam berkata, ”Ya Tuhanku, Engkau benar-benar telah memberikan kekuasaan padanya atas aku, maka aku tidak mungkin untuk menolaknya kecuali dengan pertolongan-Mu.”
Allah berfirman, “Tidak akan dilahirkan seorang anak bagimu, kecuali Aku serahkan anak itu pada malaikat yang selalu menjaganya.”
Adam berkata, “Tambahkanlah bagiku.”
Alah berfirman, “Kebaikan akan mendapat imbalan sepuluh kali lipat.”
Adam berkata, “Tambahkanlah bagiku.”
Allah berfirman, “Aku akan mengampuni mereka dan Aku tidak peduli.”
Adam berkata,”Sekarang aku telah cukup.”

Iblis berkata lagi, “Ya Tuhanku, jadikanlah di kalangan mereka (anak cucu Adam) beberapa utusanku!”
Allah berfirman, “Tukang nujum”.
Iblis bertanya, “Dan apa kitab-kitabku?”
Allah berfitman, “Tahi lalat buatan.”
Iblis bertanya, “Apa haditsku?”
Allah berfirman, “ Kebohongan.”
Iblis bertanya, “Apa Quranku?”
Allah berfirman, "Nyanyian”
Iblis bertanya, “Siapa muazinku?”
Allah berfirman, "Seruling.”
Iblis bertanya,“Apa mesjidku?”
Allah berfirman, “Beberapa pasar.”
Iblis bertanya, “Apa rumahku?”
Allah berfirman, “Tempat pemandian”
Iblis berkata, “Apa makananku?”
Allah berfirman, "Yang tidak disebut padanya Asma-Ku”
Iblis berkata, “Apa minumanku?”
Allah berfirman, "Yang memabukkan.”
Iblis berkata,“ Lalu apa perangkapku?”
Allah berfirman, “Perempuan!”